Jumat, 21 November 2008

Christina - aku punya kamar barbie

Christina - aku punya kamar barbie.



Mengapa Barbie-ikon kecantikan yang dilahirkan di Amerika-dicintai kolektor dari segala usia dan jenis kelamin, juga di Indonesia.
SEBUAH kado dari Singapura mengawali pertalian itu. Dihadiahkan ayahnya pada dua tahun silam, kado tersebut mengantarkan Zara Amelia Adlina kepada persahabatan dengan beberapa gadis pirang yang cantik. Zara, nona kecil berumur sembilan tahun, amat mengagumi rambut panjang keemasan di kepala Jenny dan Vendy, dua di antara teman-teman pirangnya. Mereka bermain bersama saban kali Zara menyelesaikan pekerjaan rumah. Di kolong kursi goyang ayahnya yang berwarna biru, nona-nona blonde dan gadis kecil itu menyimpan impian mereka tentang kecantikan. "Aku mau putih kayak Jenny. Aku mau punya rambut pirang asal enggak panjang banget," ujarnya sembari mendorong Jenny-salah satu koleksi Barbienya-ke hadapan TEMPO.

Impian Zara Amelia, gadis kecil yang tinggal di Kompleks Harapan Baru Taman Bunga di pinggir Jakarta, dengan mudah bisa ditemukan pada rata-rata pencinta Barbie, boneka cantik dengan dada membusung. Pergilah ke mal-mal besar di Jakarta pada hari-hari ini, menjelang datangnya Hari Valentine, 14 Februari: Taman Anggrek, Plaza Senayan, atau Kelapa Gading. Dan saksikan bagaimana para orang tua susah payah menolak bujuk rayu putri-putri mereka agar membelikan koleksi Barbie sebagai hadiah.

Di Mal Kelapa Gading, Mega-nona manis berumur sembilan tahun-bersirobok pandang dengan sebuah Barbie yang tersenyum dari balik etalase. Sontak Mega merengek minta dibelikan satu stel baju Barbie. Ayahnya membujuk. Suara rengekan terus berdengung. Mudah ditebak siapa yang menang dalam pertempuran kecil itu: sang ayah mengeluarkan Rp 60 ribu dan baju Barbie berpindah tangan.

Barbie adalah ikon kecantikan yang dilahirkan oleh Ruth Handler di California pada 1959. Pada mulanya adalah Barbara Handler, putrinya yang gemar bermain boneka kertas. Ruth mengamati, si kecil Barbie -nama panggilan Barbara-lebih menyukai karakter boneka bercitra wanita karier atau gadis dewasa alias "boneka-boneka yang punya buah dada," kata Ruth seperti yang dikutip dalam buku Dream Doll: The Ruth Handler Story.

Maka lahirlah Barbie, boneka pirang (tadinya hanya pirang) dengan dada membusung, perut rata, dan pinggang sempurna. Barbie yang cuma direka-reka menjadi mainan si Barbara lalu dipajang dalam pameran mainan anak-anak di Kota New York pada 1959. Hasilnya? Pada musim panas tahun itu juga boneka ini menjadi "selebriti nasional": dia melesak ke dalam 10 besar daftar impian setiap gadis Amerika.

Selebihnya adalah sejarah, sukses, dan industri yang menjelajah ke lebih dari 150 negara. Gelombang industri ini mengalir deras ke dalam kamar penyanyi cilik Claudia Christina Colondam serta perancang Cindy Wibowo, 29 tahun, di Jakarta, antara lain. Barbie menerobos batas usia dan jenis kelamin. Desainer baju Sebastian Gunawan menyimpan 35 Barbie dari edisi koleksi khusus di ruang kerjanya. Dan voila: rekor jumlah dan koleksi Barbie terlengkap dipecahkan oleh seorang pria asal Singapura.

Apa yang membuat para pencinta Barbie lengket pada boneka ini? "Karena boneka ini amat detail," ujar Cindy Wibowo. Di dalam kamarnya, sekitar 300 Barbie seolah memancarkan suasana extravaganza sebuah karnaval. Ada penyanyi Cher dengan selendang bulu yang berkelebat di atas gaun ungunya yang bernuansa perak. Di sampingnya, tegak seorang maharani Afrika dengan gaun keemasan dan mahkota menjulang. Ada model cantik dalam rancangan Burberry. Juga sederet legenda Hollywood yang dibangkitkan Ruth Handler dari kubur: Vivien Leigh, Marilyn Monroe, Audrey Hepburn.

Perkampungan Barbie juga bisa dinikmati di dalam kamar Christina. Dengan sekitar 150 item koleksi, Barbie bertebaran di dalam rumah-rumah boneka, di dapur mainan, dan di atas mobil Barbie. Ken, pacar Barbie, dibaringkan Christina di ranjang khusus Barbie. "Aku sering main rumah-rumahan bersama mereka," tuturnya. Christina gemar menukar-nukar baju dan memandikan mereka. Tak aneh, banyak rambut bonekanya yang menggimbal.

Enny Setiadi Sanny, Manajer Barbie Collector's Club Indonesia, berpendapat bahwa orang dewasa dan anak-anak mengoleksi Barbie dengan alasan berbeda: "Orang dewasa memajang Barbie karena keindahannya. Anak-anak mengoleksinya sebagai mainan." Klub pencinta Barbie di Jakarta yang dikelola Enny kini punya anggota lebih dari 200 orang. Ada anak-anak dan orang dewasa, pria dan wanita.

Barbie, yang punya unsur kedewasaan fisik, membuat para kolektor tidak melemparkan sang boneka ke gudang begitu usia mereka bertambah. Cindy Wibowo, misalnya, menyukai Barbie sejak duduk di kelas lima SD. Dan cintanya kepada para boneka ini tidak luntur saat dia beranjak dewasa. "Setelah bekerja, saya bisa membeli tujuh Barbie sekaligus," kata Cindy. Boneka ini bahkan menjadi sumber inspirasi bagi Cindy sebagai perancang busana. Dan hasilnya bukan main-main.

Tahun lalu Cindy menang dalam kontes rancang busana Barbie tingkat dunia di Amerika Serikat. Boneka Amerika itu dia dandani dengan busana penari legong keraton Bali. Saking cintanya kepada Barbie, Cindy merancang gaun pengantin bagi Barbie serupa persis dengan gaun pengantin miliknya. Bila punya waktu luang, Cindy mencobakan aneka macam rias wajah pada Barbie-Barbienya.

Di kalangan gadis kecil, Barbie juga kerap dijadikan sumber inspirasi "jadi apa bila aku besar nanti." Christina ingin jadi pramugari, "Tapi aku mau jadi pramugari yang cantik dan seksi seperti Barbie," ujarnya.

By 085285855112

Tidak ada komentar:

Posting Komentar